Museum Disney: Seabad Perjalanan Studio Disney

Siapa sih yang tidak menyukai film animasi? Mungkin memang ada sih yang lebih memilih format film lain daripada animasi. Tapi aku yakin yang menyukai animasi lebih banyak daripada yang membencinya. Gambar bergerak ini dicintai lintas usia dan lintas negara. Tak terkecuali berbagai animasi yang diproduksi oleh studio Disney.
Ketika aku berkunjung ke Perpustakaan Nyi Ageng Serang minggu lalu, karena keterbatasan waktu aku hanya sempat membaca satu buku. Buku dengan sampul tebal dan berilustrasi berwarna yang indah itu berjudul “Disney Museum”.
Bermenit-menit kemudian aku larut dengan cerita perjalanan Disney. Terutama, mengagumi coretan gambarnya. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa Walt Disney nekat membuka studio Disney Brothers Studio bersama kakaknya, Roy O. Disney pada tahun 1923. Lalu namanya diubah menjadi The Walt Disney Studio pada tahun 1926. Saat itu usianya baru 25 tahun.
Disney memiliki obsesi terhadap cerita “Alice in Wonderland”. Ia ingin membuat film animasi tentang anak perempuan yang tersesat di negeri ajaib tersebut. Namun, ia harus bersabar.

Ia kemudian memulai karyanya lewat ‘Oswald the Lucky Rabbit”.Setelah kehilangan hak atas karakter tersebut, Walt Disney terinspirasi menciptakan Mickey Mouse yang kemudian menjadi ikon studionya
Ia kemudian juga berhasil merilis Alice dalam bentuk hybrid live action dan animasi. Bentuknya serial hitam putih dan bisu. Dalam serial tersebut Alice bertualang bersama seekor kucing kartun bernama Julius.
Selain Oswald, Alice, dan Mickey Mouse bersama kawan-kawannya, studio Disney juga punya serial andalan berjudul Silly Simphonies. Bersama para karakter animasi tersebut, Disney berani menantang studio animasi Fleischer yang lebih dulu populer. Keduanya kemudian mendominasi kartun pada era Golden Age.
Nah, Disney kemudian mendapatkan masa-masa keemasan mulai 1930-an hingga menjelang Walt Disney meninggal pada tahun 1966. Diawali dengan debut film panjang “Putri Salju dan Tujuh Kurcaci”, film-film animasi berikutnya pun merebut hati. Para karakternya seperti Snow White, Putri Aurora, Cinderella, Pinokio, Dumbo, Bambi, Lady and the Tramp, dan Peter Pan pun menjadi favorit anak-anak hingga kaum dewasa. Pada tahun 1951 Disney berhasil merilis dongeng favoritnya, yaitu “Alice in Wonderland”.

Ya, itu masa keemasan hingga Walt Disney meninggal pada tahun 1966. Usahanya kemudian diteruskan saudaranya, Roy O. Disney. Sebelum meninggal, sejak awal 1960-an, Disney tertarik dengan fabel alias tokoh utama dalam bentuk karakter hewan. Ada “101 Dalmatians”, “The Jungle Book” dan seterusnya. Tak semuanya sukses. Pada tahun 70-an studio Disney makin merambah ke bisnis hiburan dan wisata seperti Walt Disney World.
Dalam buku ini juga dijelaskan tentang masa keemasan periode berikutnya. Kemudian hadir fenomena “Frozen” dan cerita Disney yang lebih eksperimental, tidak hanya dongeng fabel Aesop atau para putri. Ada cerita Ralph si penghancur dan robot Baymax yang kemudian juga banyak disukai.

Aku suka ilustrasi dalam buku ini. Indah dan membuatku merasa bernostalgia. Ada banyak animasi yang disebutkan di sini yang rupanya belum pernah kutonton. Ehm aku jadi penasaran seperti apa serial Alice pada era 1920-an. Demikian pula dengan beberapa kisah fabel Disney yang judulnya masih asing bagiku. Wah, sepertinya aku harus mulai mencarinya satu per satu.
Gambar dari buku Disney Museum
