Wig Merah, Kalimas, dan Potret Manusia Marjinal: Membaca Lanskap Audio-Visual Asrul Sani dalam “Jembatan Merah” (1973)

Jembatan merah

Seorang perempuan mengenakan gincu dan wig berwarna merah. Dandanannya nampak serasi dengan warna jembatan. Ia berdiri menunggu pelanggan, para pria hidung belang. Sosok perempuan bernama Kenanga dengan dandanan mencolok ini begitu kontras dengan langit malam yang gelap kebiruan. Momen ini menjadi salah satu adegan yang ikonik di film “Jembatan Merah” (1973) karya Asrul Sani.

Film “Jembatan Merah” merupakan film di mana Asrul Sani tak hanya sebagai penulis naskah, melainkan juga sebagai sutradaranya. Namun, sejatinya film ini merupakan adaptasi dari naskah drama karya Njoo Cheong Seng, yang juga pernah diadaptasi dalam film “Djembatan Merah” tahun 1950 dengan sutradara Fred Young.

Asrul Sani mengolah naskahnya sedemikian rupa sehingga versi Asrul Sani tampak berbeda dengan film orisinilnya. Hanya, nafas kehidupan kaum marginal yang dipertahankan.

“Jembatan Merah” sendiri merupakan potret para manusia kelas bawah yang berjuang untuk hidup di pinggiran kota Surabaya. Di sekitar jembatan tersebut terdapat warung milik Mbok Puspo (Fifi Young) yang di dalamnya menjadi tempat pertemuan kalangan marjinal, termasuk pelacur, pencopet, pemimpi, dan penjaja barang loakan.

Mereka adalah Ngawang (Sukarno M. Noor) si pencopet, Kenanga (Mutiara Sani) si pelacur, Sudiasih (Tanty Josepha) si pelayan warung, dan Mbok Puspo (Fifi Young) sang pemilik warung dan penjaja baju loakan. Di warung tersebut setiap harinya hadir beragam jenis manusia, salah satunya adalah Siswanto (Jasso Winarto).

Siswanto naksir kepada Sudiasih. Ia meminta tolong kepada Ngawang agar mau mencomblangkannya dengan ancaman akan melaporkan tindak pencopetannya ke polisi jika menolak. Ngawang dan Kenanga yang rupanya dulu sepasang suami istri pun berupaya keras mengatur momen agar Siswanto dapat berduaan dengan Sudiasih.

Sementara itu, Mbok Puspo kelimpungan ketika anak perempuannya, Sri Bidari (Wiwiek Sulistiawati) hendak pulang dan mengenalkan calon suami beserta calon mertuanya. Ia senang karena sudah sepuluh tahun tak berjumpa. Namun, ia kuatir putri kandungnya itu akan malu ketika melihat kondisi dirinya yang melarat.

Film Sebagai Representasi Masyarakat
Film bukan hanya media hiburan, melainkan juga media untuk memotret, merekam, dan merefleksikan kehidupan manusia. Teori refleksi ini dipopulerkan oleh Siegfried Kracauer dan Graeme Turner

Teori refleksi menyebutkan bahwa film merupakan cermin dari masyarakat. Film merupakan praktik kultural, dapat merefleksikan kondisi dan nilai-nilai sosial dan budaya pada sebuah era.

Berbeda dengan teori refleksi konvensional, Turner (1999) beranggapan bahwa film berfungsi sebagai representasi dan teks sosial. Jadi, film tidak hanya menampilkan kehidupan nyata apa adanya, melainkan representasi yang dikemas oleh pembuat film melalui bahasa sinematik untuk memproduksi pesan tertentu.

Kalimas yang merupakan sungai di bawah Jembatan Merah dikenal sebagai sarana transportasi air sejak dulu. Pada jaman Belanda, banyak kampung pribumi dibangun di sekitar sungai. Air sungai digunakan untuk mandi, minum, toilet, sekaligus pembuangan sampah (Khoiri dkk, 2020).

Ketergantungan warga terhadap air dari Kalimas dan ledakan urbanisasi kemudian memunculkan ledakan konflik. Ledakan urbanisasi memicu padatnya gubuk liar sepanjang bantaran sungai. Sedangkan Kalimas yang menjadi sarana MCK warga pun membuat kualitas air menurun dan terjadi pendangkalan parah (Tempo, 1973).

Kondisi ini terlihat dalam “Jembatan Merah” (1973). Warung Mbok Puspo yang reyot berada di samping sungai, di bawah Jembatan Merah. Belakang warung tempat mereka duduk-duduk menyambut tamu orangtua Siswanto yang hendak melamar pun juga sebenarnya tak layak karena pemandangan sungainya tak indah.

Tentang pemandangan Kalimas yang kotor dan keruh ini juga terekam dalam tembang “Balada Kalimas” karya The Gembells yang dirilis tahun 1972 yang kutipan liriknya sebagai berikut: “Tiada indah warna riak airmu yang mengusap tebing-tebingmu”. Pada “Jembatan Merah” beberapa kali kondisi sungai disorot. Salah satunya ketika Ngawang tercebur karena hendak menghalangi Mbok Puspo bunuh diri. Kondisi sungainya tampak menjijikkan.

Tentang kelompok kriminal dan pelacur seperti yang direpresentasikan oleh tokoh Ngawang dan Kenanga sendiri dimungkinkan ada di dunia nyata karena pada era tersebut terjadi ledakan urbanisasi yang tak seiring dengan jumlah lapangan pekerjaan. Tjahyo Purnomo & Ashadi Siregar (1984) juga menyebutkan bahwa PSK jalanan kelas bawah kadang-kadang mangkal di wilayah pinggiran sungai dan jembatan, sebelum kemudian banyak berpindah ke kawasan Dolly dan Surabaya barat.

Dalam “Jembatan Merah” terlihat upaya Asrul Sani untuk menggambarkan kondisi sosial kultural masyarakat era tersebut meski juga diwarnai oleh keterbatasan dialog. Dalam film ini dialog yang digunakan para tokohnya terdengar intelek dan kaya filosofi sehingga kurang pas dengan tokoh yang diperankan. Gaya ceplas ceplos dan umpatan khas Suroboyoan juga tidak terlihat dalam film ini.

Sepertinya Asrul Sani terjebak oleh preferensinya pada film religi. Alhasil dialog dengan nada ala ceramah agama di sini masih berhamburan, meski ia nampaknya masih mengontrol diri seperti pada dialog Ngawang kepada Kenanga yang menjadi kutipan film: “Dari dosa kita tidak bisa lari. Sebab, kita sendiri yang cari. Yang sudah biarlah sudah. Yang belum dibuat lagi.

Ya, dialog dalam film ini terlalu puitis intelek sehingga mengurangi nilai film. Namun, kekuatan utama “Jembatan Merah” (1973( sebenarnya terletak pada bahasa non-verbalnya, seperti wig merah sebagai topeng psikologis dan motif audio-visual sebagai kompas dan penggerak cerita.

Wig Merah: Antara Topeng, Kepalsuan, dan Pelarian
Kenanga nampak gembira ketika mendapatkan wig merah. Ia mengenakannya saat bekerja. Ia juga menggunakannya saat ikut bersandiwara bersama Mbok Puspo menyambut calon besannya.

Wig merah ini nampak mencolok di tengah kegelapan malam di jembatan merah. Warnanya yang kontras ibarat memisahkan karakter dari realitas sekitarnya. Kenanga tak benar-benar ingin sebagai pelacur. Ia hanya perlu uang untuk bertahan hidup setelah bercerai. Ia juga merasa kesepian dan ingin benar-benar dicintai

Wig merah ini bukan sekadar pelengkap tampilannya sebagai pelacur, melainkan “topeng” untuk menyembunyikan kerapuhan dan identitasnya, serta pelarian dirinya terhadap realita. Saat menjadi pelacur, ia berpura-pura mencintai pelanggannya. Ia juga mengenakan wig ini ketika bersandiwara sebagai bibi Sri Bidari.

Dalam sehari-hari Kenanga melepas wignya. Pada saat-saat itu ia menjadi dirinya sendiri. Ia tak berlagak, ia murni sebagai Kenanga.

Tentang wig ini selaras dengan teori Persona dan Topeng Sosial dari Jung (1966). Wig merupakan salah satu topeng untuk menyembunyikan sifat aslinya dan menjadi “orang lain” demi perlindungan diri. Kenanga menggunakan wig untuk memalsukan identitasnya yang dipaksa bertahan hidup di kerasnya kota Surabaya.

Menggerakkan Cerita Lewat Bunyi dan Gambar
Harus diakui “Jembatan Merah” (1973) itu indah. Ketika penulis menyaksikannya pada Sabtu (29/8) di Pameran Maestro Film Asrul Sani di Studio Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki, penulis mengagumi kualitas visualnya.

Kamera yang digerakkan oleh Thamjiz menangkap kontras ruang dari kegelapan malam dan wig Kenanga yang menegaskan keterasingan karakter. Kadang kamera juga menangkap pantulan air sungai yang kotor kemudian dikontraskan oleh sesuatu yang nampak mewah. Misalnya dalam adegan Sudibyo yang telah kaya raya menemui Ngawang yang bajunya kotor setelah jatuh dari jembatan.

Kumuhnya kawasan Jembatan Merah dalam film ini juga dibenturkan dengan rumah vila yang disewa Sudibyo untuk mengelabui calon besan Mbok Puspo. Rumah yang indah dengan taman yang asri sangat berbeda jauh dengan warung reyot Mbok Puspo.

Bagian lain yang menarik ketika kamera mengajak penonton menyusuri gubuk milik Kenanga di bawah jembatan. Ia harus melewati jalanan becek dan kotor untuk menuju gubuk yang bak istana untuk dirinya. Perjalanan menuju gubuk di kegelapan malam ini seperti menunjukkan kondisi Kenanga yang begitu terpuruk dan seperti sulit untuk keluar dari jeratan hidupnya.

Asrul Sani bersama Idris Sardi dan Suparman sebagai penata musik dan penata suara menggunakan lagu Gesang berjudul “Jembatan Merah” dan berbagai suara seperti deru kota dan kesunyian pinggiran sungai untuk membangun tensi cerita. Bunyi atau audio ibarat pengganti dialog.

Lagu “Jembatan Merah” ini sering sekali dinyanyikan oleh Kenanga. Lagu ini ibarat pesan dan protes Kenanga. Pada liriknya tertanam pesan kerinduan akan kekasih. Perasaan ini juga dirasakan oleh Kenanga. Diam-diam ia merindukan Ngawang.

Lagu ini juga merupakan ruang bagi Asrul Sani untuk menyelipkan kritik sosial. Jembatan Merah adalah saksi bisu perjuangan arek Suroboyo melawan penjajah. Hal ini juga tersirat dalam lirik lagu “Jembatan Merah” yang menceritakan perpisahan sepasang kekasih karena harus pergi ke medan perang. Sayangnya belasan tahun setelah merdeka, ketimpangan kelas makin tajam dan terjadi disintegrasi moral.

Penutup
“Jembatan Merah” (1973) merupakan bukti kepiawaian Asrul Sani sebagai sineas polimatik yang mampu “menyastrakan” gambar dan bunyi. Kekuatan dalam film ini memang visual dan audionya baik tersurat maupun tersirat yang mampu membingkai potret kaum marjinal dan mempertegas pesan kemanusiaan masyarakat yang terpaksa tinggal di bantaran sungai.

Referensi:

  1. Jung, C. G. (1966). Two essays on analytical psychology. Princeton University Press.
  2. Khoiri, M. I., Sulistyo, B. W., & Ratniarsih, I. (2020). Revitalisasi Sungai Kalimas sebagai Waterfront City untuk Sarana Edukasi dan Integrasi Wisata Kota Tua di Wilayah Jembatan Merah Surabaya. Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan (SNTEKPAN), 1(1).
  3. Purnomo, T., & Siregar, A. (1984). Dolly: Membedah dunia pelacuran Surabaya, kasus kompleks pelacuran Dolly Perpustakaan Hukum BPHN. Grafiti Pers.
  4. Tempo. (1973, Agustus 25). 7 Milyar untuk Kalimas. Majalah Tempo.
  5. Turner, G. (1999). Film as Social Practice (3rd ed.). Routledge.

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 31, 2026.

Tinggalkan komentar