Asyik Makin Banyak yang Baca Buku di Tempat Umum

Belakangan ini makin banyak yang mengadakan event membaca senyap dan event perbukuan lainnya di ruang publik, seperti di taman, transportasi umum, dan tempat publik lainnya. Tren ini sungguh menyenangkan. Aku merasa seperti punya kawanan.

Dengan adanya tren ini nampaknya makin berkurang orang-orang yang menganggap membaca buku di tempat umum adalah hal yang ganjil. Aku juga jadi punya kawanan yang rajin merekomendasikan buku yang menarik.

Biasanya aku membawa buku bacaan dalam tas. Kebiasaan ini ada sejak lama. Bukunya bisa apa saja, entah fiksi atau nonfiksi, atau sekadar buletin beberapa halaman. Aku memilihnya dari tumpukan buku yang belum kubaca atau yang belum kutamatkan.

Aku kerap membaca buku ketika mendapatkan tempat duduk di transportasi umum, baik di commuter line, LRT, MRT, ataupun ketika naik kereta jarah jauh. Aku juga membawa buku dalam sebuah acara karena aku benci bengong menunggu.

Kadang-kadang memang aku lebih sibuk menulis dengan hape daripada membaca saat di tempat umum. Saat itu biasanya aku diburu tenggat waktu atau ada ide yang kuburu takut pupus.

Jika waktuku habis dengan hape ketika seharusnya waktuku membaca, aku diliputi rasa bersalah. Pasalnya, waktuku membaca di rumah juga tak banyak. Aku pun menebusnya dengan menjadikan satu hari kegiatan membaca buku dengan durasi panjang. Bisa dalam seharian aku membaca buku saja.

Belakangan aku mulai meniru cara orang-orang di film, berpiknik sambil membaca buku di ruang terbuka. Aku membawa buku yang tipis, jajan, dan air mineral. Lalu mulailah aku duduk, menikmati panorama sekeliling, menghirup udara segar, dan membaca.

Seperti sebuah sore yang kulalui di Taman Pinang Cipayung. Aku duduk di rerumputan kering, lalu membaca buku tentang Kapitayan yang sudah lama kubeli tapi belum sempat kubaca itu.

Oh tempat ini sejuk dengan hawa yang segar. Di depanku ada kolam dengan pepohonan rindang. Aku menikmati bacaanku, hingga tak terasa telah berlembar-lembar.

Aku membaca sambil menikmati angin yang berhembus. Hingga seekor kucing menyerang, memintaku mengelus.

Ok Pus, waktunya aku berhenti membaca buku. Si kucing pun tahu itu dan kemudian memburuku untuk minta kasih sayang seraya mengamen berharap sesuatu. Siapa tahu aku membawa makanan kucing, tak hanya buku.

Duh, Pus, aku mohon maaf tidak membawa makanan kucing. Lain waktu aku harus menyelipkan sebungkus makanan kucing ke dalam tas piknik.

Matahari sudah hampir terbenam. Sebentar lagi langit gelap. Aku melangkah pulang.

Kulihat ada beberapa pengunjung yang juga piknik sambil membaca buku. Oh aku sungguh senang akan tren membaca buku di tempat umum.

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 5, 2026.

Tinggalkan komentar