Resensi Buku: Perburuan Para Pemberontak

resensi-perburuan

Kehadiran tentara Jepang mengusir para penjajah Belanda itu sebelumnya disambut gembira oleh seluruh nusantara. Ramalan Joyoboyo terbukti. Nusantara diselamatkan para kulit kuning yang kemudian akan akan tinggal seumur jagung. Namun hingga tiga bulan para tentara Jepang itu tak menunjukkan gelagat akan pergi dan memberikan janji kemerdekaan. Bahkan, kekejamannya melebihi kependudukan Belanda. Hal inilah yang membuat PETA, pasukan yang terdiri dari warga pribumi yang dibentuk oleh Jepang memberontak. Sayangnya, pemberontakan itu gagal karena adanya pengkhianat. Hardo, salah satu pemimpin pergerakan tersebut pun diburu dan menjadi penjahat nomor satu. Namun, hingga enam bulan ia tak kunjung berhasil ditangkap.

Ramli yang telah dikhitan tidak ingin minta hadiah apa-apa ke kedua orang tuanya. Ayahnya yang seorang Lurah Kaliwangan mengadakan pesta dengan menggelar pertunjukan wayang pada malam harinya dan ibunya menawarkan berbagai hadiah kepadanya. Ramli tidak minta apa-apa. Ia hanya ingin Den Hardo kembali, pulang dengan selamat. Orang tuanya, terutama ayahnya kebingungan dan juga sewot. Calon menantunya itu telah membuat kegemparan di desanya. Dan permintaan putranya aneh-aneh saja. Jika Hardo pulang ke rumahnya, maka Nipon akan menyerang rumahnya dan menuduhnya berkomplot dengan pengkhianat. Bisa-bisa ia dan keluarganya mati di ujung samurai atau bayolnet.

Saat itu ada beberapa pengemis atau kere (kaum miskin) yang berkerubung di depan rumah berharap sedekah atau makanan. Di antara para kere tersebut, ada satu kere yang berbeda. Penampilannya sama memprihatinkannya dengan kere lainnya,hanya menggunakan cawat dan tulang yang terbungkus kulit saja. Namun, ia tidak meminta-minta, hanya diam. Dan sorotan matanya membuat Ramli bertanya-tanya. Apakah kere itu mas Hardo?

Ia merengek-rengek ke orang tuanya untuk mencari kere yang mirip Den Hardo tersebut. Kere itu telah pergi ketika ayahnya menghampirinya. Dan akhirnya ayahnya berhasil menemukannya.

Tidak mudah membujuk kere tersebut untuk tinggal di rumahnya untuk menemui anaknya. Bujuk rayu pakaian dan uang tidak berhasil membuat kere itu tertarik untuk mengikutinya ke rumah. Ia hanya tertarik dengan info Ningsih, puteri Lurah tersebut yang tinggal di kota dan bekerja sebagai guru. Gadis itu adalah tunangannya dan sampai saat ini ia masih mencintainya.

Kere menolak tawaran Pak Lurah dan hanya berkata ia akan kembali jika Jepang kalah. Ketika Pak Lurah mendesak akan kemana dirinya, ia hanya menjawab menuju bintang.

Berita kehadiran kere itu kemudian tersebar luas. Nipon sangat bernafsu menangkapnya sehingga menangkap dan mengancam orang-orang yang diduga terkait dengan Hardo. Hingga ancaman itu kemudian mendekati Ningsih, gadis yang paling dicintai Hardo.

Ritme perburuan ini di awal-awal buku sangatlah lambat. Penulis agak pelit membocorkan karakter kere cerdas di bagian awal. Tapi setelah melalui sepertiga buku, konflik di buku ini mulai menaik dengan munculnya karakter pengkhianat yang tak terduga yang kemudian mengancam keselamatan Hardo dan para orang yang dikasihinya.

Tokoh kere di sini digambarkan amat tangkas. Saat awal perburuan setelah aksi pemberontakannya gagal, ia berhasil lolos setelah dikepung sekitar 4 ribu tentara Jepang plus penduduk. Ia berlari menghindari tangkapan dengan bersembunyi di alang-alang atau di sebuah gua yang angker dan mengandalkan makanan hanya yang didapatnya dari alam.

Sedangkan tokoh Nipon di kisah ini digambarkan sangat kejam. Mereka membunuh seluruh pemberontak yang tertangkap dengan sadis. Dan mereka sangat senang mengancam para rakyat yang lemah. Ayah ibu Hardo dipaksa untuk ikut di aksi pengepungan putranya. Dan ibu Hardo yang sedang sakit dan sangat sedih melihat nasib anaknya, tak lama kemudian dikebumikan. Ayahnya dipecat dari jabatannya sebagai wedana dan kemudian menjadi penjudi karena merasa kehilangan pegangan setelah kematian istri dan kehilangan putranya.

Tidak ada penjajahan di bumi nusantara yang menyejahterakan penduduk. Dijajah Belanda, kemudian disiksa Jepang sangat menyakitkan. Namun yang paling menyedihkan ketika seseorang yang kita kenal menusuk kita dari belakang, dengan alasan harta atau kedudukan.

Detail Buku:
Judul : Perburuan
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra
Rating : 7/10

~ oleh dewipuspasari pada Juli 3, 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: