Haters Berlindung di Balik Akun Fiktif

Darth vader

Sejak era reformasi kemudian berlanjut dengan semakin mudahnya akses internet dan kepopuleran media sosial, semakin mudah orang menyuarakan pendapatnya. Alih-alih kritik dan saran, atau artikel memotivasi, banyak yang memanfaatkan untuk melempar hujatan dengan bahasa yang vulgar.

Bangsa Indonesia adalah bangsa timur yang dikenal sopan-santun dan memiliki bahasa yang halus penuh tata krama. Sayangnya setelah keran kebebasan berbicara dibuka, sebagian di antaranya sulit mengontrol emosinya untuk berbicara yang pantas di dunia maya.

Ya saya paham mengapa mereka berani seperti itu. Seberapa banyak yang berani menggunakan nama asli ketika menghujat institusi atau individu. Banyak di antaranya yang menggunakan akun fiktif. Dalam pikiran mereka, toh tidak kenal, saya pakai nama lain, jika mereka marah mereka tidak bisa menggugat saya. Saya rasa itu sifat pengecut. Coba apakah mereka berani melontarkan kata-kata itu dengan nama asli atau ketika bertemu dengan orang yang diserang saat tatap muka.

Mohon maaf jika dua artikel ini mengupas tentang haters. Apakah mereka sadar kata-kata kasar mereka itu melukai pihak yang diserang? Coba mereka di posisi orang yang diserang dan bagaimana jika caci-maki itu sebagian fitnah. Sudah merusak nama baik orang dan juga melukai perasaannya.

Setelah merasakan menjadi sasaran haters dengan sebutan tak pantas seperti tikus, penjilat, bebek, pengemis,meskipun tidak menyerang perorangan melainkan kelompok, saya merasakan kepedihan selebriti,tokoh pemerintah, atau mereka-mereka yang juga dituduh macam-macam tapi ternyata cuma fitnah. Ada yang sampai bunuh diri dituduh seperti itu karena tak kuat menahan beban tersebut. Sungguh tragis.

Ayolah Kawan. Haters adalah tanda iri hati. Boleh-boleh saja mengkritisi tapi gunakanlah bahasa yang santun dan jika memungkinkan lontarkan secara pribadi tidak di jalur umum.

Bahasa menunjukkan karakter. Mohon maaf dalam dua artikel ini saya merasa marah dan sedih terhadap beberapa blogger di Kompasiana yang menurut saya sudah keterlaluan dan mengumbar fitnah. Bahkan di antara yang dihujat adalah para penulis yang sudah sepuh santun, arif, dan selalu memotivasi.

Jangan hanya berlindung di akun fiktif. Jika Anda merasa di pihak yang benar, berkatalah dengan lantang dengan keseluruhan pribadi Anda.

Gambar dari sini

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 15, 2015.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: