Yang Naas vs Penipu

Membantu

Ketika istirahat makan siang aku bercerita ke temanku ketika berangkat bertemu dengan seorang Ibu yang kehabisan ongkos untuk pulang. Ia berkata hendak kembali ke Kuningan dan meminta bantuan. Tiba-tiba aku merasa ragu membantu. Seperti terulang pola tertentu.

Temanku langsung menukas “Itu penipu, jangan pernah diberi!” Apalagi ketika aku menyebutkan lokasinya. Tapi ia tahu akhirnya aku memberinya. Aku memang meragukan kejujuran Ibu tersebut tapi apabila ia benar-benar kesusahan dan tidak bisa pulang, aku bakal merasa berdosa.

Kami lantas bercerita berapa kali kami mengalami kejadian serupa. Aku menjawab sekitar enam kali. Ia menjawab lebih banyak. Kami kemudian memetakan lokasinya. Kebanyakan mengarah di sekitar kampus, UI Salemba dan UI Depok. Wah jangan-jangan memang mahasiswa dan pekerja di sekitar sini yang menjadi sasaran.

Ada dua kali suami istri. Mereka tiba-tiba menyapaku yang sedang menunggu bus. Mereka kemudian meminta bantuanku untuk uang transportasi sekedarnya menuju rumah mereka yang cukup jauh. Otakku langsung berputar. Minimal Rp 20 ribu untuk membantu mereka ke lokasi tujuan. Ya, rata-rata lokasi yang mereka sebutkan cukup jauh sehingga kita merasa segan untuk memberi Rp 5-10 ribu. Kuatirnya tidak cukup.

Ada yang berencana pulang ke Kuningan, ke Bogor, dan sebagainya. Kadang-kadang aku berpikir apakah mereka mengalami nasib naas gara-gara tindak kiminal seperti pencopetan atau penjambretan? Ya, bisa saja terjadi di kota besar. Atau lupa bawa dompet? Bisa juga.

Prasangka buruknya, mereka sudah jauh-jauh pergi misal ke saudara. Apakah saudaranya tidak membantu memberi ongkos pulang jika sekiranya tidak sanggup.

Kawanku mengilustrasikan jika penipu tersebut mendapatkan minimal Rp 10 ribu dan kemudian berpura-pura meminta simpati dan mendapatkan 10 korban. Bisa jadi Rp 100 ribu.

Suatu ketika aku sedang menunggu angkutan umum di Margonda selepas melewati rel kereta. Ada seorang Ibu mendekat dan berkata hendak ke kawasan Senen dan takut uangnya tidak cukup. Ia menyebutkan minta bantuan Rp 20 ribu. Aku kali ini menolak karena merasa aneh dan sudah eneg dengan pola seperti ini. Juga memang saat itu saya sedang tidak punya uang selain untuk naik angkutan umum.

Tapi aku merasa aneh. Ia tadi berjalan di belakang saya dan melewati rel. Seharusnya ia naik kereta karena saat itu belum ada kartu dan cukup membayar Rp 1500 bisa sampai ke Stasiun Senen dengan transit terlebih dahulu. Atau membayar lagi Rp 2500 untuk naik kopaja dari Stasiun Manggarai/Gondangdia. Naik bus pun juga bisa dengan ke kampung rambutan dulu dan total sekitar Rp 5 ribu untuk saat itu. Oleh karena merasa aneh, aku dengan halus menolak membantunya. Ketika aku sudah masuk angkot, ia nampak mendekati perempuan muda lainnya.

Akan tetapi saya masih sangsi apakah mereka semua penipu. Mungkin di antara 10 penipu tersebut ada 1-2 yang sedang benar-benar naas dan perlu bantuan. Kasihan jika mereka telantar, tentu saya juga bakal kesusahan jika bernasib sama.

Ilustrasi dari sini

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 16, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: