Tentang Musik

kecapi

Terkadang bingung jika ditanya tentang genre blog yang kumiliki. Gado-gado. Artikel di Kompasiana lebih bersifat opini atau peristiwa yang serius, meski ulasan filmnya juga banyak. Sedangkan di blog pribadi ini awalnya lebih ke ulasan buku, kemudian lebih ke jalan-jalan dan ke musik. Nah, ulasan musik ini akhir-akhir ini menjadi artikel terpopuler, membuatku terpikir untuk lebih banyak menulis tentang musik.

Saya yakin tidak ada yang tak suka dengan musik. Jika buku, tidak semua gemar membaca. Tapi mendengar musik, sulit dihindari. Di angkutan umum dan di pusat perbelanjaan pun diperdengarkan musik, termasuk juga tetangga kanan-kiri yang anaknya belajar bermain flute atau PRT-nya menyetel radio kencang-kencang. Ya, rasanya aktivitas kita sulit terhindarkan dari musik. Seperti saat ini, saya pun menulis dengan mendengarkan musik.

Banyak yang mencoba menghubungkan antara musik dan kepribadian. Menurut saya ada beberapa pendapat di kalangan masyarakat yang salah, seperti menganggap penggemar musik rock itu doyan kekerasan, suka melanggar aturan, dan memiliki kepribadian tertutup. Wah itu tidak bisa digeneralisasi, karena saya yang pecinta musik rock meski baru selevel core dan nu metal termasuk pecinta hewan meskipun memang agak tertutup sih, beraninya menulis daripada tampil di layar hehehe.

Musik itu seperti seni lukis dan seni lainnya memiliki keindahan yang bersifat subyektif. Ada yang menyukai musik melayu, musik keroncong, musik orkestra, dan sebagainya. Menurut saya minat yang berbeda itu wajar. Saya juga mengapresiasi sebagian musik dangdut, asal yang lirik dan penyanyinya tidak vulgar.

Tentang musik, dalam artikel ini saya ingin membahas musik tradisional. Sebenarnya musik tradisional di Indonesia itu sangat luas, bukan hanya musik dangdut atau keroncong, juga tembang-tembang Jawa.

Saat mengambil mata kursus World Music di coursera beberapa tahun silam, saya menyadari Indonesia kaya akan musik indigenous atau musik etnik, sayang di kursus tersebut Indonesia tidak disebut-sebut.

Dalam kursus musik tersebut yang dideskripsikan di antaranya musik Mongolia yang terinpirasi dengan angin dan kuda. Mereka pandai menciptakan musik dari mulut menciptakan suatu nada yang unik dan indah. Begitu juga berbagai suku di Afrika dan suku Indian yang melakukan yodel dan menciptakan musik-musik yang tak bisa disamai dengan alat musik.

Di Indonesia untuk musik yang diciptakan dari mulut dan instrumen pasti lebih banyak. Dilihat dari jumlah suku saja, Indonesia memiliki ratusan jumlah suku. Umumnya tiap suku memiliki musik tradisional. Jadi jumlah musik tradisional di Indonesia sangat berlimpah.

Saya menyukai tembang Jawa meskipun beberapa di antaranya terkesan memiliki nuansa suram. Tapi adapula yang kocak dan riang.

Waktu meliput pertunjukan tari kontemporer di Balai Pemuda sekian tahun silam, saya terpana mendengar musik dari Padang, dengan menggunakan saluang, semacam seruling dan alunan musik dari mulut mereka. Indah. Saya malah lebih terpana dengan alunan musiknya daripada tariannya.

Ada berbagai instrumen musik daerah selain gamelan yang perlu lebih diperkenalkan ke generasi muda seperti sasando, saluang, kerang, kulintang, angklung, kendang, rebana, kecapi, arumba, siter, sampek,dan hapetan. Musik yang dihasilkan oleh instrumen ini tak kalah indahnya dengan musik modern masa kini.

gambar dari http://www.proghita.com

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 8, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: