Tantangan Mengabadikan Momen Menarik pada Malam Hari

api-unggun

Duarrr…semua mata dari penumpang perahu tertuju pada sumber ledakan tersebut. Bukan…bukan tabung elpiji yang meledak, melainkan kejadian alam yang menggetarkan ketika dilihat dari dekat. Anak Gunung Krakatau yang aktif tersebut tengah meletus dengan skala kecil. Ia memuntahkan batu berpijar dimana seolah terlihat seperti kembang api alam. Aku mencoba mengabadikan momen tersebut. Gagal. Yang dihasilkan kameraku hanyalah gambar-gambar gelap. Aku kecewa.

Tujuanku ke Anak Gunung Krakatau adalah melihat aktivitas gunung berapi tersebut. Rasanya mendebarkan sekaligus penasaran jika membaca peristiwa letusan Gunung Krakatau yang begitu dahsyat. Ketika melihat aktivitas gempa kecilnya langsung dari jarak tak begitu jauh dari Anak Gunung Krakatau, saya merasa takjub. Hanya dengan skala kecil saja dentuman dan mineral yang dikeluarkan sudah sedemikian rupa, bagaimana jika sungguh-sungguh meletus? Duh semoga jangan deh.

Momen malam hari tak tertangkap, harus puas dengan momen Anak Gunung Krakatau saat cahaya terang

Momen malam hari tak tertangkap, harus puas dengan momen Anak Gunung Krakatau saat cahaya terang

Ketika tidak berhasil mendapatkan momen aktivitas gunung tersebut, aku merasa lunglai. Aku iri kepada mereka yang membawa kamera profesional dan mendapatkan gambar-gambar indah menakjubkan.

Rasa kecewa ini juga hadir pada saat melihat aktivitas penyu bertelur dan pelepasan anak-anak penyu yang lucu. Tidak boleh ada cahaya blitz, selain satu senter, agar penyu tidak ketakutan saat bertelur. Proses menanti penyu datang hingga melahirkan begitu dramatis. Begitu juga saat pelepasan anak penyu. Duh lucunya. Ketika tiba di penginapan, aku cemberut momen itu tidak berhasil kuabadikan dengan sempurna. Banyak noise dan beberapa di antaranya kabur dan gelap.

Memotret anak penyu yang dilepas pasti bakal lebih bagus dengan kamera yang canggih.

Memotret anak penyu yang dilepas pasti bakal lebih bagus dengan kamera yang canggih.

Saat menjelajah baik sendirian maupun bersama-sama kawan ataupun rombongan, aku melihat ada banyak obyek menawan pada malam hari. Obyek-obyek menarik tersebut seperti langit yang semarak penuh bintang, pemandangan kota pada malam hari berhiaskan lampu, pesta kembang api dan api unggun, blue fire pada Kawah Ijen, laut berlatar pulau-pulau pada malam hari, saat fajar dan jelang matahari terbit di pantai ataupun gunung, dan masih banyak lagi momen dan panorama menakjubkan lainnya. Banyak di antara momen tersebut yang gagal kubekukan dalam rupa gambar. Aku hanya menikmatinya dan mencoba merekam dalam benakku.

Ya, ya, ya aku iri kepada kawanku dan mereka yang memamerkan aktivitas Anak Gunung Krakatau, pesta kembang api, dan gambar fajar yang mempesona. Perasaan iriku ini merupakan kombinasi dari rasa kecewa dan ketidakmampuan untuk membeli kamera profesional. Jika pun tabungan sudah mencapai angka untuk membeli body kamera profesional, biasanya dialihkan kepada kebutuhan lain yang lebih penting dan mendesak.

Aku mencoba berhitung-hitung. Body kamera saja berkisar Rp 5 juta. Belum pernak-pernik lainnya seperti wide lense, aneka filter, tripod, dan sebagainya. Rasanya keinginan memiliki kamera profesional semakij di awang-awang. Tapi aku mencoba menepis keinginan tersebut dengan membandingkan antara bobot kamera ponsel dan kamera profesional. Selama ini aku terbiasa hanya membawa sedikit barang agar ringan selama bepergian. Beberapa perjalanan juga kulakukan sendirian. Rasanya lebih aman dan lebih praktis membawa ponsel daripada kamera profesional, hiburku.

Percayalah ketika melihat foto-foto luar biasa tentang peristiwa malam hari, sangkalanku tentang bobot kamera profesional dll itu menjadi tidak penting. Jika momen itu berhasil terdokumentasi dengan baik maka momen itu bakal abadi. Kalian akan bangga memamerkan dan menceritakannya ke teman, pasangan, anak dan cucu Kalian.

Kota berhiaskan lampu bakal indah jika diabadikan dengan sempurna

Kota berhiaskan lampu bakal indah jika diabadikan dengan sempurna

Namun penantianku untuk mendapatkan kamera yang berkualitas untuk menemani perjalanan rasanya bakal terjawab. Rumor yang beredar, Polytron, produsen elektronik populer di tanah air, bakal merilis generasi smartphone teranyar, yang di dalamnya tersemat kamera dengan teknologi yang menyamai kamera profesional.

Selama ini yang banyak dikeluhkan dari pengguna kamera ponsel sepertiku adalah keterbatasan mengambil gambar pada malam hari atau yang sumber cahayanya terbatas (low light) dan juga dari segi kecepatan. Proses ibu penyu melahirkan dan ketika anak penyu dilepas ke laut itu memiliki serangkaian adegan yang bakal menjadi serangkaian cerita yang menarik jika berhasil diabadikan satu-persatu. Momen ketika malam berubah menjadi langit kemerahan dan kemudian kekuningan pada saat matahari bersinar juga bakal menjadi foto bercerita yang indah jika perubahan gerakannya berhasil dibekukan satu-persatu.

Teknologi low light dan rana yang menyamai kamera profesional ini pada Polytron Smartphone disebut ISOCELL dan PDAF Technology. Apa sih yang dimaksud ISOCELL tersebut? ISOCELL merupakan sensor pada kamera yang dapat memperkecil ukuran pixel tanpa mengurangi kualitas kinerja kamera, bahkan malah dapat meningkatkan performa kamera menjadi lebih baik. Teknologi ISOCELL dapat membuat batasan antarpiksel yang sangat kecil dan mampu mengikat setiap piksel di sensor kamera sehingga tidak terjadi tabrakan antarpiksel. Hasilnya, sensor kamera dengan teknologi ISOCELL mampu menghasilkan gambar dengan keterbatasan cahaya (low light) yang memiliki dynamic range lebih baik dibandingkan sensor current backside illuminated. Alhasil permasalahan seperti saya yang sulit mengabadikan momen pada malam hari dan di tempat yang sumber pencahayaannya terbatas akan teratasi.

Nah jika ISOCELL berkaitan dengan sumber pencahayaan yang terbatas, PDAF Technology bersangkut paut dengan rana atau kecepatan. Teknologi PDAF berguna bagi mereka yang menyukai memotret obyek dinamis dalam pengambilan momen yang bergerak, seperti lomba lari, kucing yang melompat, atau mobil yang sedang melaju. Teknologi ini membuat kamera cepat mengambil fokus secara cepat dan tepat dalam waktu 0,3 detik. Tidak ada masalah bagi obyek foto yang jauh maupun dekat. Gambarnya akan tajam, natural, dan tidak kabur. Kecepatan menangkap fokus dan mengabadikan momen ini juga berkat kerja sama dari komponen smartphone lainnya yaitu prosesor Octacore dengan pemrosesan 2GHz tipe Helio P10 64bit.

Rumornya sih harga smartphone ini bakal dibandrol dengan harga Rp 3,7 juta. Wah jauh nih di bawah harga kamera profesional dan plusnya bobotnya lebih ringan cocok bagi mereka yang suka praktis berpetualang. Beredarnya juga diperkirakan sekitar pertengahan November mendatang. Hemmm…bermimpi dulu deh siapa tahu pasangan tiba-tiba membelikan ponsel ini untuk hadiah bagi istrinya yang doyan menjelajah.

Patung bidadari akan lebih tajam dan cerah jika menggunakan teknologi ISOCELL

Patung bidadari akan lebih tajam dan cerah jika menggunakan teknologi ISOCELL

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Oktober 28, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: