Hujan dan Mie Pedas

Hemmm wanginya aroma mie basah membuatku tergoda. Cuaca hujan, harum tanah basah dan hawa yang sejuk rasanya pas untuk menyantap sesuatu yang panas. Aku melirik ke mangkok berisi mie, telur, dan irisan cabe rawit yang dibuat Kania. Wanginya itu lho. Aku mengambil sendok. Si Kania pun dengan gesit menyingkirkan mangkoknya, menjauh dariku.

Pelit nih Kania. Sesendok dua sendok pun tak boleh. Aku bikin sendiri deh. Nanti kalau sudah jadi nggak bakal kukasih.

Sayangnya cuma ada mie goreng instan yang ada di rak makanan. Aku berpikir sejenak. Mie goreng ala mie basah juga bisa.

Aku pun mengiris tipis bawang putih, bawang merah, cabe rawit. Di tempat terpisah kurajang kasar daun bawang dan sawi hijau.

Telur pun kuaduk rata. Kemudian kusiapkan minyak dan air dalam gelas. Aku sudah siap memasak.

Wajan pun kupanaskan. Kemudian minyak sedikit kutuang. Kutumis bawang putih, bawang merah, dan cabe. Wah sudah wangi. Lalu kumasukkan telur dan kumasak hingga setengah matang. Air pun kemudian kutuang.

Sambil menunggu air dalam wajan mendidih, aku melihat si Nero dan Mungil berlompatan dari jendela. Wah gawat mereka sudah lapar. Bakal mengacaukan acara masak dan makanku nih. Si Nero badannya basah dan sekarang asyik mengibas-ngibaskan bulunya membuat Kania mengusirnya.

Aku memasukkan mie, kecap, bumbu mie dan sedikit gula pasir. Kutambahkan sawi hijau dan daun bawang. Lalu kuaduk-aduk dan kubiarkan mieku matang. Kini penampilannya seperti mie basah namun dengan tambahan kecap.

Nero dan Mungil memasuki dapur. Keduanya mengeong-ngeong. Berisik sekali. Mereka sepertinya kedinginan dan lapar. Kasihan.

Aku pun melihat persediaan ikan di kulkas. Ada ikan tongkol tapi masih beku.

Lalu kupanaskan air baru kumasukkan beberapa potong ikan tongkol. Ikan yanv beku itupun mencair dan lama-kelamaan matang menjadi ikan tongkol rebus.

Aku mencacah tongkol dengan sendok agar cepat dingin. Kubagi ikan ke piring makan Nero dan Mungil. Mereka mengendus-endus. Ikannya masih panas. Kuah ikannya juga masih mengepul.

Akhirnya ikannya sudah bisa dimakan. Nero dan Mungil nampak menikmatinya. Setelah ikan habis mereka menikmati kuahnya.

Sedangkan aku asyik duduk sambil menikmati mie pedasku. Di luar sana masih hujan, di dalam ruangan aku mendecap-decap kepedasan. Pedas pedas nikmat.

Gambar dari pexels

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 6, 2017.

4 Tanggapan to “Hujan dan Mie Pedas”

  1. Siapa Kania?

  2. Ternyata cerpen 😊

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: