Perpustakaan, Aroma Buku, dan Hujan

Aku membuka lembaran buku, aroma buku menguar. Oh ya Kalian tentu sudah paham jika buku itu memiliki aroma yang beragam. Aku suka menciuminya, menikmati aroma yang berbeda. Ada yang berbau seperti aroma buah pinus, ada juga yang asam seperti cuka. Aroma lainnya juga beragam, ada yang berbau seperti lem, ada juga yang wangi citrus samar-samar. Namun yang dominan di perpustakaan ini adalah aroma apak, karena bukunya rata-rata buku lawas dan tersimpan di perpustakaan yang sirkulasi udaranya kurang apik.

Perpustakaan tua ini masih ada. Dulu tempat ini merupakan sanctuary-ku, tempatku yang kurasa paling nyaman. Aku membayangkan diriku sebagai Belle, puteri Disney yang maniak buku. Ah siapa tahu aku bertemu beast yang kemudian menjadi pangeran di sini.

Kini perpustakaan ini makin sepi. Pengunjungnya makin berkurang. Kebanyakan pembacanya adalah orang-orang tua yang lebih banyak menghabiskan waktunya membaca koran. Selain koran,koleksi buku di perpustakaan ini tak banyak berubah. Semuanya telah berumur, baik bukunya, penjaganya, maupun pengunjungnya.

Aku terjebak di sini karena hujan. Hujannya begitu deras, jika aku mengandalkan payungku maka bajuku akan basah. Maka aku pun memilih masuk ke perpustakaan ini.

Semuanya masih nampak sama.Penataan rak bukunya tak jauh berbeda. Meja favoritku juga masih ada di posisi yang sama. Masih ada majalah anak-anak yang dulu suka kupinjam. Aku mengelusnya, seolah-olah dengan mengusapnya, aku bisa mengingat masa-masa kecilku bersama majalah tua tersebut.

Aku kemudian mengambil sebuah majalah berbahasa Jawa. Aku ingat ayahku dulu pernah rutin membelinya. Aku memilih duduk di dekat jendela, ke meja favoritku, lalu membuka-buka halamannya. Mengingat majalah tua ini aku jadi ingat masa kecilku dulu. Wah gimana kabar majalah Panjebar Semangat dan Joyoboyo sekarang?

Majalah di depanku sudah berbau apak dan sedikit berjamur. Aku dulu suka membaca “Apa Tumon” dan suka menebak-nebak cerita yang dituliskan dalam aksara Jawa. Apakah 10 atau 20 tahun lagi aksara Jawa tersebut masih dikuasai generasi mendatang dan eksis?

Aku melihat-lihat foto Malang jaman dulu dan sekarang. Hujan masih terus mengguyur. Melihat foto tersebut dan kemudian memandang hujan dari balik jendela, membuatku seolah-olah tersedot ke masa lalu. Aku larut dalam lamunanku.

Ket. Gambar dari Historia dan dokpri yang sudah diunggah di Detik Travel dan Kompasiana

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 5, 2018.

2 Tanggapan to “Perpustakaan, Aroma Buku, dan Hujan”

  1. Aroma buku mmg beda ya mba

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: