Roman Bujang Lapuk dalam “Love for Sale”

Dulu ada becandaan di kantor yang bikin nyengir bagi pendengarnya, tapi bikin kesal bagi yang mengalaminya. Ini sungguh becandaan, jadi jangan dimasukkan ke hati. Suatu ketika ada salah satu rekan pria yang belum menikah hingga usia sekitar 45 tahun. Kawanku yang terkenal suka melawak berkata kalau usia segitu bukan lagi matang, tapi kematangan. Mungkin perasaan kesal karena dijadikan olokan bujang lapuk itulah yang juga menimpa Richard dalam “Love for Sale”.

Hidup Richard (Gading Marten) begitu datar dan seperti rutinitas. Bangun tidur mengurusi kura-kuranya lalu berangkat ke percetakan yang diwarisinya dari orang tua angkatnya. Makan malam biasa ditemani mie instan sambil menyaksikan pertandingan sepak bola.

Ia dikenal perfeksionis dan tidak kompromi dalam hal keterlambatan. Oleh karenanya ia senewen apabila anak buahnya datang terlambat.

Hingga suatu ketika. Saat kawan-kawannya berkumpul usai nobar sepakbola, Richard ditantang untuk menggandeng pacarnya pada resepsi pernikahan Rudi. Richard beralasan pacarnya selama ini sibuk. Lantas kawan-kawannya bertaruh bahwa Richard akan selalu menjadi bujangan. Hal ini membuat Richard kesal.

Ia memikirkan untuk mengajak kawan-kawan wanita yang dikenalnya masa sekolah. Sayangnya banyak yang sudah berkeluarga. Ia lalu mencoba menghubungi agen Love Inc. yang menawarkan teman wanita. Di situlah ia berkenalan dengan Arini (Della Dartyan).

Perempuan bernama Arini itu cantik dan ia supel. Ia pandai berpura-pura menjadi pacar settingan. Konflik kemudian terjadi ketika Richard salah pesan hari. Rupanya ia ‘menyewa’ Arini selama 45 hari. Maka jadilah Arini tinggal di rumah Richard hingga masa kontrak habis. Secara perlahan mulai tumbuh benih cinta di dada Richard.

Apakah Richard berhasil menghapus julukan bujang lapuk alias jomblo akut?

Gading Marten Tampil Natural 

Yang menarik dari film “Love for Sale” adalah ceritanya yang biasa kita temui sehari-hari. Ada banyak di antara kita yang memiliki kawan bujangan yang tak kunjung menikah, atau malah diri kita sendiri yang mengalaminya. Menjadi jomblo lewat usia nikah itu tidak enak. Selain kerap menjadi bahan gunjingan atau malah becandaan, mereka yang jomblo juga sebenarnya tak sabar bertemu dengan belahan jiwa.

Adegan-adegan di “Love for Sale” terkesan alami dan natural. Dialog antara pekerja percetakan atau ketika Richard bercengkrama dengan temannya adalah yang biasa kita temui.

Memang ceritanya menjadi unik berkat adanya agen penyewaan teman wanita dalam bentuk aplikasi mobile Love Inc. Sepertinya aplikasi seperti kencan atau yang sifatnya perjodohan sudah ada, tapi aku tak tahu jika ada layanan yang bersifat berbayar. Wah apakah seperti prostitusi online ya, entahlah.

Cerita dalam “Love for Sale” ini kemudian berkelok. Penutupnya juga dibiarkan mengambang. Inilah yang membuat film ini menjadi unik dan menjadi bahan diskusi.

Selain premis ceritanya yang unik, film ini jadi apik berkat kekuatan akting pemeran utamanya, Gading Marten dan Della Dartyan. Gading Marten membuktikan dirinya memiliki bakat di bidang akting, bukan hanya berada di bayang-bayang kebesaran nama ayahnya, Roy Marten. Ia berhasil meraih piala citra lewat perannya sebagai bujang lapuk di film “Love for Sale”. Ia kemudian dipercaya memerankan Naga Bonar.

Karyawan percetakan

Nah Della Dartyan sendiri merupakan pendatang baru di dunia film. Ia langsung didapuk jadi pemeran utamanya. Berkat totalitasnya ia juga mendapat nominasi piala citra. Meski tak menang, keberhasilannya menjadi nominator membuatnya dilirik banyak produser. Ia lalu didapuk membintangi “Pocong: Origins” sebagai pemeran utama.

Oh ya film Visinema Pictures ini rupanya merupakan satu universe dengan “Filosofi Kopi”. Hal ini terlihat dari poster yang dicetak oleh percetakan milik Richard dan produsernya yang juga sutradara Filosofi Kopi, Angga Dwimas Sasongko.

Detail Film:
Judul: Love for Sale
Sutradara: Andibachtiar Yusuf
Pemeran: Gading Marten, Della Dartyan, Annisa Pagih, Verdi Solaiman, Rizky Mocil, Albert Halim
Genre : Drama, komedi romantis
Skor : 8/10
Gambar: Visinema Pictures

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 28, 2019.

5 Tanggapan to “Roman Bujang Lapuk dalam “Love for Sale””

  1. […] “Love for Sale”menarik karena meskipun ada unsur fantasinya,kisahnya membumi. Diceritakan Richard adalah bujang lapuk yang sedang kebingungan mencari teman buat kondangan nikahan. Ia juga terlanjur ikut taruhan bersama kawan-kawannya bakal mengajak kekasihnya ke acara tersebut. Aslinya ia tak punya siapa-siapa. Ia pun memanfaatkan jasa aplikasi kencan. Tapi ternyata kemudian hubungan ia dan gadis kencannya itu, Arini, berlanjut. Hingga pada akhirnya Arini menghilang dan jejaknya sulit dicari. Ulasan lengkap bisa dibaca di sini. […]

  2. Udah pernah liat trailernya ini film di youtube, demen banget asli sama color gradingnya film-film Visinema. Bikin betah ditonton. Apalagi ini ceritanya unik 😁

  3. Film yang bisa menyasar diri sendiri. Seperti membuka tabir cinta haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: