Aku dan Ratusan Buku

Buku koleksiku

Di antara puteri Disney, aku paling menyukai kisah Beauty and The Beast. Kegemarannya akan buku itulah yang membuatku memfavoritkan si cantik Bella. Bukan gaun indah atau perhiasan gemerlapan yang menarik perhatian Bella, melainkan perpustakaan pribadi pangeran yang memuat ribuan buku. Wow luar biasa!

Aku memiliki kebiasaan yang mirip dengan Bella yakni sama-sama kutu buku. Rasanya susah sekali saya menghindar jika melihat ada pameran buku. Seperti ada magnet kuat untuk menengoknya sebentar. Meski kemudian memiliki akhir yang sama, yaitu tidak pernah pergi dari pameran buku dengan tangan kosong, dimana selalu ada yang kubeli.

Seperti minggu lalu aku membeli dua buku baru. Charles Dicken’s Ghost Stories dan My Stupid Boss: Fans’ Stories 1. Rasanya sulit menahan keinginanku untuk tak membeli kedua buku ini. Apalagi harganya sedang diobral. Dua buku tersebut menambah koleksi bukuku yang sudah mencapai ratusan.

Jika suamiku tahu aku membeli buku baru, ia hanya menggeleng-gelengkan kepala. Aku tahu ia bakal kesulitan melarangku membeli buku karena buku juga kaya manfaat. Namun ia memintaku untuk mengingat rak buku kami yang terbatas.

Aku nyengir mengingat kondisi rumah dan rak buku kami yang penuh sesak oleh tumpukan buku. Tidak seperti Bella yang asyik menikmati buku dari sebuah rak buku yang ukurannya luar biasa, buku-buku kami harus rela berdempet-dempetan dalam tujuh buah rak buku. Jika aku tidak bisa menahan diri untuk selalu membeli buku maka bakal menyulitkan koleksi-koleksi bukuku sebelumnya. Mengapa demikian? Karena buku juga perlu perawatan dan perhatian dari si pemiliknya.

Buku yang berdesakan tak teratur dan bertumpukan di sebuah rak buku bisa merusak buku itu sendiri. Cover bukunya bisa tergores dan bukunya juga bisa lecet.

Selain itu, tatanan buku yang berantakan bisa membuat pemiliknya kesulitan sendiri untuk memilah-milah buku mana yang belum dibaca atau mencari buku berdasarkan judul dan pengarang tertentu.

Melihat bukuku yang akhir-akhir ini mulai berantakan membuatku gemas ingin melakukan stock opname dengan metodeku sendiri. Biasanya aku mengambil setumpukan buku dari tiap bagian dalam rak buku, kemudian menyiapkan laptop dan membuka file database koleksi bukuku.

Sambil mengelap debu dari buku aku mencocokan data antara yang ada di file dengan kondisi yang ada dalam rak buku. Ada berbagai kemungkinan kondisi buku. Ada buku yang tidak ada di database sehingga masuk dalam kategori buku baru dan harus kumasukkan profil buku tersebut beserta deskripsinya. Ada juga buku yang ternyata raib atau bisa jadi sedang dipinjam oleh kakak. Data buku yang tidak jelas keberadaannya ini ku-higlight dan kemudian kutelusuri dengan bertanya ke kakak dan keponakanku yang memang suka meminjam koleksi bukuku jika singgah ke rumahku.

Buku yang ada di rak buku juga kuperiksa kondisinya. Ada yang bernasib malang dengan sampul buku yang sobek atau halamannya ada yang terlipat atau terlepas sehingga harus kuselamatkan terlebih dahulu dan masuk kategori buku-buku perlu P3K. Ada juga yang masuk kategori risiko mininal yakni belum disampul plastik.

Memang semua buku di rumah saya upayakan disampul plastik. Selain terlihat rapi juga biar kondisinya awet.

Pernah suatu ketika keponakanku masih kecil dan mengira sampul plastik itu bungkus. Ia nampak sibuk sekali membuka bungkus beberapa koleksi bukuku yang membuatku terperangah. Ada juga buku yang bernasib lebih malang dan membuatku hampir menangis. Ya, buku itu dicoret-coreti dengan spidol dan pulpen. Huuhu untunglah keponakanku sekarang sudah mengerti buku. Aku juga sudah mengingatkannya untuk menyayangi buku agar buku-buku itu bisa dibaca hingga bertahun-tahun kemudian.

Buku koleksiku juga berasal dari koleksi milik ayah. Di antaranya adalah buku tentang dunia perwayangan, koleksi Karl May dan koleksi Tintin. Buku-buku Tintin milik ayah dibeli pada tahun 1980-an. Sedangkan buku perwayangan dan koleksi cerita Indian karya Karl May di antaranya jauh lebih tua, yakni akhir tahun 1970-an. Lebih tua dari usiaku.

Buku-buku dari ayah inilah yang mengenalkanku pada asyiknya bersahabat dengan buku. Dari buku aku juga mengenal dunia yang luas. Tentang bagaimana gadis kecil dari Malang mengenal ganasnya beruang grizzly dan terjalnya perjalanan menuju pegunungan Rocky Mountain. Juga bagaimana gadis kecil berkhayal seperti Tintin dan pernah mewujudkannya. Ya, buku memang bisa menjadi inspirasi dan menjadi sumber impian. Oleh karenanya jangan pernah berhenti mencintai buku.

Melihat bukuku yang sudah berjumlah ratusan buku, aku berangan-angan untuk menambah koleksiku lagi. Ya untuk itu aku harus memiliki rak buku baru lagi.

Ada rasa penasaran atas apa yang terjadi kepadaku dan keluargaku jika koleksiku menjadi 1001 buku. Saya yakin bakal ada perubahan positif yang akan menanti jika koleksiku terus bertambah dan tentunya kubaca.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Maret 20, 2016.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: