TIK Membantu Tunanetra Lebih Percaya Diri dan Mandiri

IMG_20160405_204238

Melihat para tunanetra yang tergabung dalam Karya Tuna Netra (Kartunet) asyik bercengkrama dengan komputer di depannya membuat saya penasaran. Saya mengintip keyboardnya, lho ternyata keyboard biasa, bukan keyboard dengan huruf braille. Lantas bagaimana mereka bisa mengetik sebuah artikel dan menjelajah internet? Saya makin penasaran dan kemudian duduk tenang menikmati penjelasan Dimas dan Riqo dalam sosialisasi pelatihan tunanetra yang diselenggarakan di Rumah Internet Atmanto (Riat), di Pengadegan Utara No 14, Selasa (5/4).

Dimas Prasetyo Muharam (27) menganggap keterbatasan bukan akhir dunia. Selama ada jalan berupa solusi maka tunanetra pun tetap bisa berkontribusi.

Dimas merasa beruntung dapat menggunakan komputer untuk membantunya menyelesaikan studi hingga sarjana dan mendapatkan penghasilan. Dimas dan Riqo adalah pendiri Kartunet bersama-sama dengan Irawan Mulyanto dan Aris Yohanes. Mereka tergerak untuk membantu sesamanya yang memiliki keterbatasan dalam indera penglihatan dalam wujud gerakan bernama Kartunet. Saat ini komunitas ini telah genap berusia satu dasawarsa pada Januari 2016.

Dimas Pendiri Kartunet yang Percaya Diri

Dimas Pendiri Kartunet yang Percaya Diri

Selama ini masih banyak anggapan komputer untuk tunanetra itu mahal, padahal sebenarnya setiap tunanetra bisa memanfaatkan komputer yang ada. Tidak perlu keyboard braille yang mahal. Yang mereka perlukan adalah bagaimana mengatasi keterbatasan visual. Solusinya melalui suara. Ya, suara. Tapi yang dimaksud suara di sini bukan suara manusia, melainkan suara digital.

Sahabat itu bernama screen reader yang mampu menerjemahkan tulisan dalam layar menjadi bentuk suara digital. Saat tunanetra menekan tombol alfabet maka program screen reader akan mengeluarkan bunyi dari alfabet tersebut. Sedangkan untuk tombol navigasi seperti panah maka akan dibacakan arah panah tersebut

Para Pendiri Kartunet dan RIAT

Para Pendiri Kartunet dan RIAT

Software screen reader ini ada yang berbayar, tapi banyak pula yang cuma-cuma. Di sistem operasi Mac bisa dengan mengaktifkan Apple Voice Over. Sedangkan pada komputer berbasis sistem operasi Windows bisa menggunakan JAWS – Job Access with Speech Sintesizer (berbayar) atau NVDA (gratis). Software lainnya ada Serotek System Access (Windows), ORCA (Linux), dan Emacspeak (Linux),

Menurut Riqo yang bernama lengkap M Ikhwan Thoriqu sebenarnya gadget sudah dirancang ramah disabilitas, tidak hanya komputer tapi juga ponsel layar sentuh. Sehingga tunanetra tidak perlu takut gagap teknologi. Mereka bisa menggunakan gadget tersebut namun perlu beradaptasi.

Tapi sebenarnya tidak cukup dengan meng-install screen reader, para tunanetra perlu beradaptasi dengan gadgetnya. Lebih bagus lagi jika mereka sudah hafal posisi angka dan huruf pada keyboard tersebut, dengan membiasakan mengetik dengan posisi sepuluh jari

Mengapa komputer dan akses internet penting bagi masa depan penyandang tunanetra? Oleh karena mereka menyadari keterbatasan fisik dalam hal mobilitas. Sementara di satu sisi sarana umum di Indonesia masih belum ramah disabilitas. Sehingga, bekerja di rumah dengan akses internet akan sangat membantu kaum tunanetra dalam mendapatkan penghasilan

Untuk itulah Kartunet bekerja sama dengan Rumah Internet Atmanto (RIAT) untuk mengadakan pelatihan internet tunanetra seperti bagaimana mengetik, melakukan browsing dan membaca konten dari situs tersebut, hingga kemudian mendapatkan penghasilan dari kegiatan berinternet. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan para penyandang tunanetra tidak gagap teknologi, lebih percaya diri dan mandiri secara finansial.

Pelatihan ini akan diadakan sekali dalam sebulan. Durasinya berkisar seminggu dengan sepuluh peserta. Batch pertama direncanakan pertengahan Mei mendatang khusus bagi tunanetra di Jabodetabek. Baru pada gelombang berikutnya akan meluas ke berbagai daerah. Dimas berharap para peserta ini nantinya dapat menularkan ilmu mereka ke teman-teman sesama tunanetra sehingga dampak positifnya meluas. Untuk kelancaran program pelatihan tersebut teman-teman bisa ikut berkontribusi dalam situs crowdfunding yang dibuat Kartunet bernama begadang.co.id.

Bagaimana para tunanetra mendapatkan penghasilan? Dimas dan Riqo mengandalkan kemampuannya menulis dan melakukan promosi alias marketing dengan menggunakan internet. Ia melakukan afiliasi dengan berbagai sponsor termasuk dari luar negeri. Dengan memasang iklan di blog mereka yang traffic-nya tinggi maka mereka mendapatkan komisi. Komisinya rata-rata dalam bentuk dollar. Bahkan Riqo pernah meraih 20 ribu USD dalam waktu sebulan. Untuk itu tunanetra perlu memiliki ketrampilan dalam hal menulis konten yang baik dan pengetahuan tentang SEO.

 

Tentang RIAT

Dalam menjalankan kegiatannya, Kartunet banyak dibantu oleh Rumah internet Armanto (RIAT). RIAT didirikan oleh Indar Atmanto dan saat ini dibantu oleh anggota keluarganya, Adam, Faiz, dan istrinya, Amy Atmanto, yang lebih dikenal sebagai perancang busana.

Amy Atmanto, Istri pendiri RIAT yang juga seorang perancang busana

Amy Atmanto, Istri pendiri RIAT yang juga seorang perancang busana

Amy Atmanto yang menjadi tuan rumah gathering ini mendukung penuh kegiatan Kartunet karena sejalan dengan visi misi RIAT. Gerakan masyarakat RIAT ini memiliki visi untuk pemberdayaan masyarakat umum dan penyandang disabilitas agar mampu mandiri. Sedangkan misinya yaitu menyediakan solusi praktis permasalahan yang dihadapi masyarakat dengan bantuan teknologi.

Mengapa teknologi intenet? Oleh karena kehidupan modern saat ini tak lepas dari peran internet. Hal ini juga selaras dengan revolusi digital yang dicanangkan Presiden  dan UU disabilitas sehingga seluruh warga Indonesia termasuk penyandang disabilitas dapat memanfaatkan teknologi. Dengan internet maka sesuai motto Kartunet, tunanetra dapat mengatasi keterbatasan tanpa batas.

 

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada April 5, 2016.

6 Tanggapan to “TIK Membantu Tunanetra Lebih Percaya Diri dan Mandiri”

  1. Wahh akan banyak yg terbantu kedepannya di era digital ini, menginspirasi..

  2. harus berterimakasih pada riat yang sangat membantu para tuna netra untuk maju

  3. hai mbak Dewi, terima kasih untuk ulasannya. Tulisannya menarik sekali. Jadi betah bacanya. mohon selalu ya mbak dukungannya buat Kartunet 🙂

    • Terima kasih Dimas sudah berkunjung ke artikel ini. Wah aku salut banget sama Kalian, aku juga sudah berkunjung ke website Kalian dan membaca beberapa artikelnya. Artikel Kalian bagus-bagus. Dua jempol buat kualitas karya dan semangat Kalian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: