Subuh, Segelas Kopi, dan Merenung

Rutinitas membuatku kaku dan lemah. Aku melakukan segala sesuatu mirip dengan hari kemarin, tak jauh beda dengan seminggu sebelumnya. Kalau diteruskan, setiap saat jadi sama, maka rasanya aku bukan lagi manusia. Tubuhku akan terkontrol rutinitas, bak sebuah robot, android, cyborg, ataupun manusia buatan. Oleh karenanya di waktu Subuh ini aku merenung, menyisihkan waktuku sejenak.
Kata orang segala hal bisa terselesaikan oleh waktu. Waktu akan membuat orang terpacu untuk menyelesaikan masalahnya. Waktu juga yang membuat seseorang menjadi pemaaf dan menyadari kekurangannya. Waktu juga bisa menahan obsesi dan menunjukkan kekuatan besar di sana.

Aku terlalu banyak berharap dan mudah cemas. Kadang-kadang aku was-was aku tidak menikmati sebuah momen karena merasa tergesa-gesa. Terburu-buru karena apakah?

Dibandingkan lima tahun lalu, aku merasa diburu-buru. Jaman makin modern. Komunikasi makin mudah. Namun kemudahan itu terkadang membuat segala sesuatu terburu-buru dan tak bisa dinikmati. Tidak ada lagi batasan waktu istirahat dan waktu kerja seperti dulu. Ruang-ruang privasi pun sepertinya diterobos dengan mudah.

Waktu Subuh, aku merenung dan memikirkan peristiwa kemarin dan hari-hari sebelumnya. Memikirkan apa-apa saja yang terlintas. Mumpung si Nero dan Mungil juga sedang keluar rumah dan aku tak terganggu akan permintaan mereka untuk makan atau sekedar dielus-elus.

Ada mereka yang masih mengaji, ada juga yang telah mulai memanaskan mesin kendaraan. Yang rajin pun telah mulai menyapu jalanan dan halaman rumahnya. Ayam jago pun masih berkokok bersahutan.

Sementara di dalam rumah, aku mulai terpikir untuk kembali menyisihkan waktuku untuk menjadi aku. Masa-masa yang sederhana dan kunikmati dulu. Membaca buku hingga larut di dalamnya sambil mendengarkan radio. Lupakan ponsel, obrolan yang kurang penting, dan deadline ini itu sejenak. Aku ingin kembali membaca dengan tenang dan nyaman. Membaca sebuah buku yang bisa kupegang.

Aku juga ingin kembali rutin berlari. Berlari hingga nafas tersengal-sengal dengan iringan udara yang segar. Atau jika sedang malas, aku bisa berlatih sit up dan push up dengan iringan musik cadas.

Wah aku terlalu berharap dan banyak keinginan. Aku pun mulai memanaskan air dan kemudian membuat kopi instan. Kopi kusesap. Kemudian aku tersenyum. Keinginanku untuk membaca lagi dengan rutin akan kumulai mulai hari ini.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Desember 7, 2017.

2 Tanggapan to “Subuh, Segelas Kopi, dan Merenung”

  1. Oke Mba,silahkan membaca buku. Nanti review bukunya tulis aja di blog.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: