Jangan Terus Terpuruk, Melangkahlah

Wajahku muram dan tubuhku lunglai ketika memasuki rumah. Aku mengucap salam dan kemudian menghempaskan tubuhku pada sofa. Sepertinya Ibu tahu apa yang kurasakan. Ya sudahlah, yang penting sudah berusaha, hiburnya berupaya menentramkanku.

Hari itu adalah lomba semifinal cerdas cermat matematika. Aku sudah merasa sangat beruntung bisa memasuki sembilan besar. Aku sangat gugup dan gelisah. Apalagi aku ditunjuk sebagai juru bicara.

Aku tercenung banyak soal yang belum pernah kuketahui. Soal-soal tentang elips dan bangun ruang yang ternyata baru akan kuperoleh ketika duduk di bangku kelas tiga SMA. Sementara aku masih duduk di bangku kelas dua SMA.

Aku pucat ketika masing-masing perwakilan kelompok diminta menjelaskan cara menjawab pertanyaan tersebut di depan dewan juri dengan urutan langkah-langkahnya. Kedua temanku menggelengkan kepala. Aku pun melangkah dengan gontai karena merasa jawabanku bakal salah. Ya, kelompok kami mendapat nilai terendah.

Aku sedih tapi aku tak menangis. Aku hanya sedih karena kesempatan menang tak kuraih. Aku tak bisa membuat Ibu bangsa dan berseri-seri. Dan kompetisi hari itu merupakan kekalahan yang kesekian kali.

Ibu mengajarkanku untuk berani berkompetisi secara sportif. Sejak kecil Ibu mengajakku untuk berani bercita-cita tinggi. Namun dengan kondisi perekonomian kami yang pas-pasan, aku harus berusaha lebih. Aku harus bisa masuk ke sekolah negeri favorit agar aku nantinya dapat memiliki banyak peluang untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Di perguruan tinggi negeri biasanya banyak beasiswa sehingga nantinya kedua orang tuaku tidak akan banyak dipusingkan dengan biaya pendidikan yang tinggi.

Sejak usia dini aku diajarkan untuk melakukan hal yang terbaik dan berani berkompetisi. Memang kadang-kadang aku menganggapnya sebagai beban. Tetapi, ketika aku menoleh ke belakang, aku menyadari kebenaran kata-kata Ibu. Aku mungkin akan sulit memasuki SMA favorit apabila aku tidak berupaya keras.

Ya, aku ingat hari itu. Aku merasa tak berdaya karena berulang kali aku kalah di babak semifinal dan final. Aku merasa sebagai pecundang. Aku malu. Malu kepada diriku, kepada kawan-kawan di sekolah, juga kepada keluarga. Tanpa dorongan Ibu agar aku tetap sabar dan terus melangkah, mungkin aku tak bisa sampai di posisi saat ini.

Ibu mengajarkanku untuk berupaya sebaik mungkin dan bertawakal. Jangan cepat menyerah, sabar dan tekun berusaha, lalu serahkan kepada Yang di Atas.

Ketika baru menjadi wartawan, aku kerap pulang ke kosan dengan fisik dan mental yang lelah. Berhari-hari beritaku tak ada yang dimuat. Padahal aku sudah mencari berita sejak matahari terang. Aku hampir saja menyerah. Tapi usaha dan doaku kemudian terjawab. Kualitas tulisanku mulai meningkat dan aku dipercaya meliput berbagai kegiatan. Bahkan pernah dalam satu hari aku menulis sembilan artikel dan semuanya dimuat meskipun tidak sekaligus.

Meskipun aku selalu berupaya keras, nasibku tidak selalu cerah. Ada masa-masa ketika aku merasa tidak ada harapan dan patah semangat. Ibu dan pasangan dengan sabar memberiku semangat agar aku dapat kembali bangkit dan melangkah. Ayolah, satu langkah akan memberikan perbedaan.

Jika Ibu dan pasangan berhenti menyemangatiku, mungkin aku akan terus terpuruk. Aku kembali melangkah. Kegagalan dulu menjadi cambuk bagiku untuk kembali berupaya dan berhati-hati agar tak jatuh di lubang yang sama. Semangat dan kerja kerasku perlahan-lahan kembali mendatangkan hasil. Aku kembali menatap masa depan dengan antusias.

Ibu mengajarku untuk berupaya keras, berani berkompetisi dengan sportif dan kemudian berserah diri pada Tuhan. Jika yang kemudian yang terjadi tak sesuai harapan maka jangan larut salam keterpurukan. Bersabarlah dan mengevaluasi diri, kemudian kembalilah melangkah.

Teman-teman apakah Kalian punya cerita tersendiri tentang pesan dari Ibu Kalian yang paling berkesan? #JasmineElektrikCeritaIbu

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Januari 30, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: