Si Mungil, Dari Kucing Nakal Menjadi Ibu Penyayang

Bulan Maret silam menjadi awal-awal kenakalan si Mungil Ponoc. Saat itu ia masih kucing anak-anak yang hendak menjadi kucing remaja. Kucingnya nakal sekali, suka panjat-panjat gorden, cakar-cakar kasur dan naik di atas lemari. Sampai kukira ia kucing jantan karena nakalnya sama waktu Nero masih kecil. Ia kucing betina. Dan kini tingkahnya mulai berubah.

Aku sudah naksir dengan Ponoc waktu ia masih kecil. Tampang jailnya sudah terlihat meski ia masih mungil. Ia lincah dan matanya menyiratkan kejailan.

Dari tiga anak si induk, hanya Ponoc alias si Mungil yang bertahan hidup. Adiknya sakit dan si Pwan tertabrak.

Si Ponoc membuatku kesal sekaligus senang. Ia kadang-kadang suka memanjat tubuhku dan membiarkan ekornya yang mungil berkibas-kibas di depanku. Duh nakalnya. Ia yang paling rajin membangunkanku, selain Nero dan Kidut almarhum. Jika aku tak segera bangun, suaranya yang sember tak akan berhenti meneriakiku. Belum lagi cakar dan kibasan ekornya. Ya…ya…aku bangun Mungil, ampun.

Usia Mungil sekarang satu tahun. Ia telah memiliki anak. Usianya baru sekitar beberapa minggu. Masih kecil. Hanya satu yang hidup dan dibawa ke rumah.

Ia menaruh anaknya di dapur. Ketika kupindahkan ke teras, ia marah besar dan kembali membawanya ke belakang.

Si Mungil berubah. Ia yang dulunya nakal dan brangasan kini menjadi lebih tenang. Ia penyayang. Aku suka melihatnya menyusui anaknya kemudian menjilati-jilatinya. Ia nampak begitu sayang kepada anaknya. Ia jadi tak suka jalan-jalan. Biasanya ia hanya keluar sebentar kemudian kembali untuk memeriksa anaknya.

Anaknya sendiri lucu. Warnanya persis induknya. Ada warna putih, hitam, dan cokelat moka. Lucu menggemaskan. Bulunya juga agak panjang seperti induknya. Aku bingung menamainya. Apakah kunamai Kidut junior saja ya? Soalnya melihatnya aku teringat ke Kidut.

Kemarin ketika aku pergi, aku menguatirkan keduanya. Untunglah keduanya tak apa-apa. Keduanya senang menyambutku.

Si Mungil Ponoc yang lincah wajahnya tetap jail nakal. Tapi ia berubah menjadi sosok induk yang perhatian.

Selamat hari ibu, si Mungil.

~ oleh dewipuspasari pada Desember 22, 2019.

4 Tanggapan to “Si Mungil, Dari Kucing Nakal Menjadi Ibu Penyayang”

  1. pecinta kucing ya mbak????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: