Terketuk Tapi Masih Ragu

Aku kasihan padanya. Ia tetap kubiarkan makan dan kadang-kadang masuk ke rumah. Hingga suatu ketika aku tidak menyukainya. Bukan, bukan membencinya, karena aku juga masih tetap membiarkannya makan. Hanya tidak suka akan perilakunya. Ia telah menelantarkan beberala anaknya dari dua kali melahirkan. Hingga kemudian ia sepertinya terketuk.

Coki, aku memberi nama si kucing cokelat itu. Badannya kecil, hampir sama dengan Kidut yang baru lima bulanan. Tapi usia Coki sudah tua, sekitar dua setengah tahun. 

Ia memiliki mata yang sendu. Matanya bikin trenyuh. Ketika dielus-elu bulunya ia akan sekali dan terus-menerus memintanya. 

Ia tak pernah jadi kucing utama. Ia nakal. Kadang-kadang buang kotoran seenaknya dan mencuri makanan. Tapi yang paling bikin aku muak ketika ia menelantarkan bayi-bayinya. Kelahiran pertama masih kumaklumi mungkin ia mengalami sindrom yang umum dialami oleh kaum ibu. Tapi ketika dua kali ia melakukannya dan bersikap biasa saja, sungguh aku merasa kesal. 

Aku berniat membuang kucing itu. Tapi kemudian tak tega. Biarlah. 

Bayi kucingnya kutitipkan ke si Mungil. Si Mungil yang melahirkan sehari sebelumnya adalah ibu kucing yang baik. Ia menjaga dan menyusui empat anaknya. Tambah satu kucing ia tak masalah. Jadilah si Mungil merawat lima bayi kucing. 

Hampir sebulan. Bayi kucing itu matanya sudah terbuka. Mereka sudah bisa berjalan walau jalannya masih sempoyongan. 

Hawa di Jakarta saat ini begitu gerahnya. Aku yang sudah berkipas anginan sendiri merasa panas. Pintu dan jendela masih suka kubuka hingga malam. Dan kegerahan ini juga menyerang para makhluk berkumis berkaki empat. Mereka mengincar kamar mandi. Mereka suka tidur di lantai kamar mandi. Atau tiduran di depan kipas angin.

Anak-anak si Mungil juga tak tahan dengan hawa gerah ini. Sudah tiga hari belakangan ini mereka ke luar kamar, membuat si Kidut kelabakan menggiring mereka masuk kembali. Ada satu anak kucing yang suaranya paling kencang dan paling agresif untuk jalan-jalan. 

Ia anak si kucing cokelat alias Coki. Ia hidup dan bertahan karena jasa si Mungil. 

Anak kucing itu melangkah dan melangkah hingga di depan si Coki. Awalnya Coki cuek tapi ia seperti mengenali anak kucing itu darah dagingnya. Ie melihatnya saja tapi kemudian naluri ibunya terketuk. Ia kemudian menjilatinya. Ketika si anak ingin menyusu ia kabur dan sembunyi. 

Beberapa kali si anak kucing mendekatinya. Ia baru sebatas menjilati dan memeluknya. Ia nampaknya masih ragu untuk menyusuinya atau mungkin tak paham caranya. Ia mencoba posisi seperti induk yang menyusui tapi ketika anaknya mendekat ia ragu. Ia mencobanya tapi entahlah apakah air susunya tak ke luar? karena si anak kucing nampak bingung dan beralih ke si Mungil.

Melihat itu ekspresi si Mungil sulit ditebak. Ia mungkin tahu si kucing itu bukan anaknya. Ia mulai menjauh dari si anak kucing tersebut. Padahal si anak kucing masih perlu air susu induknya. 

Drama anak kucing. Ia memiliki dua ibu. Entah siapa yang akan menjadi ibu sejatinya. 

~ oleh dewipuspasari pada Mei 23, 2020.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: