“Perburuan” yang Kurang Diburu Penonton

Film “Perburuan” termasuk film yang kutunggu-tunggu selama bulan Agustus. Apalagi pemerannya Adipati Dolken yang tampil memikat di “Posesif” dan “Perahu Kertas”. Tapi sayangnya si sutradara, Richard Oh, nampaknya kurang halus dan kurang apik eksekusinya dalam memindahkan bahasa teks ke bahasa bergerak ala film, sehingga filmnya kurang bisa dinikmati.

Seorang kawanku keluar dari studio sebelum film berakhir. Kata dia, ia tak kuat menontonnya. Membosankan. Meskipun durasinya tak sampai 100 menit. Ia membandingkannya dengan “Bumi Manusia”yang durasinya 180 menit, meski lama tapi ceritanya menghanyutkan.

Kawan-kawan lainnya juga tak memberikan skor bagus. Aku masih memberi film ini 7/10 karena aku suka akan pewarnaan filmnya dan juga dialog-dialog dalam film ini, meskipun sebagian masih mirip dengan bahasa di novelnya, sehingga terasa kaku.

Atau mungkin karena aku sudah menamatkan novelnya, maka aku penasaran bagaimana si sutradara memboyongnya ke layar lebar.

Film “Perburuan” ini berfokus pada Hardo (Adipati Dolken). Ia anak seorang pembesar di Blora Jawa Tengah. Hardo memilih berkarir sebagai serdadu PETA, pasukan yang dibentuk oleh Jepang.

Hardo kemudian menganggap Jepang tak ada bedanya dengan Belanda. Mereka penjajah dan memerlakukan bangsanya dengan semena-mena. Terdorong dengan keprihatinannya akan nasib bangsanya, juga semangat Shodanco Supriyadi yang juga tengah menggerakkan pasukannya di Blitar, ia pun berencana mengambil alih markas. Namun karena adanya pengkhianatan, maka rencana mereka pun bubar jalan. Kawan-kawan seperjuangan mereka banyak yang ditangkap dan kemudian dipenggal.

Hardo dan dua kawannya, Dipo dan Kartiman bersembunyi di hutan. Mereka kemudian berpisah agar tak mudah dilacak.

Hardo tahu bahwa kemerdekaan tinggal menunggu waktu. Banyak yang kemudian mengharapkannya untuk pulang, lalu menyerahkan diri ke Jepang baik-baik. Tapi ia paham itu adalah jebakan. Ia pun menyamar sebagai gelandangan sembari mencari kabar tentang kekasihnya, Ningsih (Ayushita).

Premis kisah “Perburuan” sebenarnya menarik. Seorang buronan yang gesit.

Tapi unsur perburuannya kurang terasa. Tidak ada adegan kejar-kejaran yang membuat penonton deg-degan. Tidak ada anjing ganas yang membuat adrenalin orang-orang yang diburu jadi melonjak. Yang ada malah serdadu-serdadu yang gampang tertipu.

Alurnya kurang dinamis. Terasa datar dan membosankan. Cerita Supriyadi yang disisipkan malah jadi tanda tanya. Benarkah karakter Supriyadi seperti itu? Kalau misalnya tindakan Supriyadi yang diperlihatkan di film tersebut kurang benar, malah berbahaya.

Dari segi akting, Adipati Dolken dan Ayushita tampil lumayan meskipun kurang maksimal. Demikian pula dengan pemeran ayah masing-masing tokoh. Pemeran lainnya masih kurang menyakinkan.

Pemberontakan PETA sendiri diperkirakan terjadi pada 14 Februari 1945 sehingga enam bulan kemudian adalah 14 Agustus, waktu di mana Jepang sudah menyerah ke sekutu setelah pengeboman Hiroshima dan Nagasaki. Menurutku ceritanya sudah masuk akal untuk melekatkan situasi tersebut di akhir cerita, tapi agak terasa serba kebetulan, sehingga malah menurunkan cerita yang tensinya sudah naik.

Dari segi novel, kuakui ceritanya relatif datar dan agak berat dibandingkan dengan novel Pramoedya Ananta Toer lainnya, seperti “Gadis Pantai” atau “Arok Dedes”. Mungkin dari segi dialog dan bahasanya.

Richard Oh sendiri tidak bercerita seperti dalam novelnya yang di awal langsung berfokus pada penyamaran Hardo sebagai kere. Ia berada di sekitaran rumah kekasihnya, karena adik kekasihnya merindukannya. Di sini ia berinteraksi dengan sesama kere sehingga ia sulit dibedakan dengan sesama kere alias gelandangan lainnya. Tapi dalam film, karakter adik ini dihilangkan sehingga tujuan Hardo kembali ke daerahnya lebih dipicu karena intuisinya bangsanya akan segera merdeka.

Agak disayangkan film ini kurang laku dan turun layar dalam beberapa hari. Ia hanya ditonton 19.299 penonton. Jumlah yang sedikit jika dibandingkan dengan kerja keras pemain dan kru film.

Detail Film:
Judul: Perburuan
Sutradara: Richard Oh
Pemeran: Adipati Dolken, Ayushita
Genre : Drama perjuangan
Skor : 7/10
Gambar : Falcon Pictures

~ oleh dewipuspasari pada Agustus 26, 2019.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: