Monolog

telephone

Dering telepon di bilik sebelah terus berbunyi, mengganggu, aku terusik dari lemburku. Aku merasa lega ketika dering itu akhirnya berhenti.Belum habis aku menghembuskan nafasku, eh telepon itu kembali berdering. Membuatku merasa ingin membanting telepon tersebut. Hai kemana sih pemilik meja tersebut?

Telpon itu kembali berdering setelah sesaat berhenti. Ooh aku tidak tahan lagi. Aku pun menuju bilik sebelah.

Pemilik mejanya tidak ada. Aku terpekur sudah lama aku merasa tidak pernah bertemu dengan Iyan, yang biasa duduk di meja ini. Apakah ia ada perjalanan dinas atau tugas belajar sehingga lama tidak terlihat?

Meja kerjanya nampak rapi dan bersih. Seolah tidak ada yang menggunakannya, menunggu Iyan kembali hadir dan mengisi meja ini dengan sketsa-sketsa desainnya yang selalu meraih puja-puji.

Aku terhenyak ketika telpon itu kembali berdering. Aku mengangkatnya dan menyebutkan nama kantor dan bertanya siapakah si penelpon. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Di ujung sana si penelpon malah menangis tersedu-sedu.

Aku merasa ada sesuatu energi tertenti yang membuatku tidak mampu untuk menutup telepon tersebut. Padahal jelas-jelas aku ingin menutupnya.

Si penelpon pun bermonolog. Aku sendiri seolah bisa membayangkan kisahnya yang bak sebuah cerita dalam film. Film misteri.

Ia berkata jika ia senang akhirnya ada yang mengangkat telponnya. Sudah lama ia ingin mengetahui kabar dari orang-orang di sekelilingnya, tapi ia juga tidak tahu dimana dirinya sekarang dan kenapa orang-orang tidak berusaha mencarinya. Ia menelpon kemana-mana, ke nomor yang ia ingat dan tidak ada yang menjawabnya. Ia kembali bertanya-tanya, kenapa?

Ia lalu teringat dengan nomor ini. Nomor ini terbayang jelas. Nomor dari sebuah telpon di meja yang dulunya dipenuhi dengan sketsa-sketsa menawan. Ia merindukan…ia merindukan gambar-gambar itu. Ia merindukan ucapan puja-puji itu. Ia lalu menangis dan kemudian sambungan telpon itu terputus.

Tanganku gemetaran. Aku ketakutan sekaligus merasa sedih. Tubuhku terasa lemas dan aku jatuh terduduk. Suaranya masih meresap ke benakku. Suara yang kukenal.

Itu tadi Iyan yang bermonolog.

Iklan

~ oleh dewipuspasari pada Februari 10, 2017.

2 Tanggapan to “Monolog”

  1. ijinkan saya nyimak monolog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: